Rasa dan aroma gudeg manggar relatif sama dengan gudeg nangka yang sudah kondang. Tapi teksturnya berbeda.
Bunga kelapa yang saat dipanen masih terbungkus slongsong ini, saat dimasak akan buyar sedangkan nangka lebih padat. Sebagian tangkai bunga tersebut tetap keras sehingga tidak laik kunyah, apalagi bagi gigi tua. Lauk tambahan seperti tahu, tempe, krecek & cabe rawit, ayam dan jeroannya akan menambah nikmat saat menyantap nasi hangat dengan gudeg manggar ini.
Sayangnya laku kreatif dari pawon-pawon di Bantul ini kurang
berkembang. Salah satu penyebabnya, konon karena mahalnya harga manggar hingga 10 ribu/kg sedangkan nangka 'cuma' 6 ribu/kg. Apalagi bila hari raya tiba, harga bunga kelapa bisa berlipat empat kali lipat. Tak heran jika penjual reguler gudeg manggar pun bisa dihitung jari. Tapi mereka selalu bisa mendapatkan bahan bakunya di pasar tradisional. Meski sang petani pemasok, kadang merasa sayang memanen bunga kelapa. Mungkin karena kebutuhan untuk bayar kesehatan & pendidikan lah, sehingga aborsi manggarpun dilakukan.
Yang pasti, leluhur kita dari Bantul telah berkreasi kuliner dengan jenius memanfaatkan kekayaan lokal. Tentu saja 'kegilaan & keberanian' menanggung resiko gagal melekat dalam proses kreatif tersebut.
Terkadang masih sukar membayangkan bagaimana mungkin mereka menemukan cikal bakal kelapa ini bisa menjadi masakan pendamping nasi hangat yang akan kita lahap.
Suap demi suap gudeg manggar pun kita santap...






0 comments:
Post a Comment