Dalam beberapa dekade terakhir, menu protein hewani (telur, daging sapi, ayam/unggas, ikan, dan seafood lainnya) selalu disajikan menemani nasi/roti/mie atau sumber karbohidrat dalam berbagai bentuk. Pelajaran & penjelasan tentang pentingnya peran protein dalam pertumbuhan anak dan peremajaan sel tubuh telah banyak beredar di masyarakat. Sehingga kita selalu berusaha menghadirkan menu protein hewani, meskipun harganya relative mahal. Bahkan sajian menu protein hewani menjadi ukuran kemakmuran bagi masyarakat umum. Namun, masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein tersebut belum tentu masyarakat yang sehat badani. Banyak diantara mereka yang menderita obesitas sejak usia muda, kemudian berbagai penyakit pencernaan dan organ tubuh bermunculan ketika usia paruh baya. Menurut penelitian, rata-rata di dalam alat pencernakan para Pria Amerika tersimpan sekitar 2 Kg Makanan Yang Tidak Habis Dicerna, termasuk daging merah yang membusuk di ususnya. Pantaslah jika gemuk sering bermula dari perut...
Pokok persoalannya adalah pada proses pencernaan yang tidak sempurna dalam perut kita. Pemahaman tentang proses pencernaan protein hewani memang kurang merata. Dalam buku “Fengshui Makanan” karya Ignas Bethan, disebutkan tiap jenis makanan akan dicerna sempurna oleh lambung kita JIKA kondisi lambung memenuhi syarat tertentu. Syarat tersebut akan dipengaruhi oleh enzyme tertentu. Namun beberapa enzyme yang keluar bareng akan saling melemahkan sehingga makanan tidak bisa dicerna secara sempurna. Penumpukan sampah sisa makanan dan racun makanan pun mulai terjadi dalam tubuh kita.
Berikut ini TIPS untuk menghindari pembusukan protein hewani dalam perut kita:
- Kombinasi terbaik adalah PROTEIN HEWANI dengan SAYURAN SEGAR
Pilihan terbaik saat mengkonsumsi protein hewani adalah dengan dicampur sayuran hijau yang rendah karbohidrat seperti labu, kubis, brokoli dan lainnya sebagai lalapan SEGAR atau mentah. Sayuran segar akan membantu kondisi ideal keluarnya enzyme pepsin yang diperlukan perut untuk mencerna protein hewani secara sempurna.- SEKALI SAJA makan PROTEIN HEWANI per hari.
Dr. Hiromi Shinya dalam karyanya “Keajaiban Enzyme” menyebutkan jumlah protein hewani yang diperlukan setiap orang adalah l.k. 1 GRAM untuk setiap 1 KG berat badannya Per HARI. Jadi seseorang yang berbobot 61 Kg, cukup mengkonsumsi 60 Gram protein hewani Per HARI. Dalam Gaya Hidup “Keajaiban Enzym” disarankan rasio menu hewani CUKUP 15%, sedangkan menu nabati MINIMAL 85% dari total makanan kita tiap hari.
- GANTIKAN PROTEIN HEWANI dengan PROTEIN NABATI.
Kacang kedelai telah dianggap sebagai “Daging dari Ladang” karena kandungan asam amino esensialnya tidak lebih rendah daripada daging, kecuali kadar Treonin-nya yang sedikit dibawah. Biji-bijian, sereal, polong-polongan, sayuran, jamur, buah, dan sayuran laut banyak mengandung asam amino. Hasil penelitian menyatakan 37% berat Nori (rumput laut yang dikeringkan) adalah protein dan Kelp (sejenis rumput laut) adalah sumber harta karun asam amino. Budaya makan tempe (kacang kedelai yang ditaburi ragi/sejenis bibit jamur) seharusnya menjadikan bangsa kita cukup nutrisi asam amino sekaligus enzyme, zat hidup dari ragi yang berkembang. Konsumsi sumber protein nabati diatas dalam jumlah seimbang akan mencukupi semua kebutuhan protein & lemak bagi tubuh manusia dan menghapus keinginan metabolik untuk daging, telur dan protein hewani lainnya.
- Kombinasi TERBURUK adalah PROTEIN HEWANI dengan KARBOHIDRAT Ternyata menu utama manusia modern yang berupa kombinasi daging dan kentang, atau hamburger dan lauk goreng, atau telur dan roti bakar, atau nasi dan lauk ayam/ikan ...adalah kombinasi makanan terburuk. Ketika kita mengunyah daging dan nasi/kentang/roti, maka enzym ptyalin (yang bersifat basa) akan tercampur dalam makanan. Proses pencernaan karbohidrat oleh enzym ptyalin bersifat basa ini terus berlanjut ketika makanan masuk ke lambung. Sementara proses pencernaan Protein yang membutuhkan lambung yang bersifat asam terhenti, karena enzym pepsin dan sekresi asam lainnya sebagai pengurai protein tidak berfungsi lagi. Saat itulah bakteri bermunculan menghabiskan nutrisi protein yang kita butuhkan. Sebaliknya bakteri tersebut akan menyisakan berbagai jenis sampah racun dan gas busuk dalam tubuh kita. Memang pencernaan kita akan mengimbangi sampah racun tersebut dengan berbagai enzym/kelenjar tubuh. Tapi jika tiap hari dalam seminggu dan sepanjang tahun kita berperilaku demikian, pencernaan kita akan sampai pada batas kemampuannya dan berhenti mengeluarkan kelenjar. Maka sampah racun akan mulai menumpuk, terjepit dalam lipatan usus, mengakibatkan penyempitan & tersumbat/menggelembungnya usus sehingga racun meresap ke dalam darah melalui proses osmose. Radang usus dan kanker usus akan menjadi fase buruk selanjutnya... dan tinggal menunggu waktu.
Masuknya lemak ke dalam usus berbarengan dengan protein akan menghambat pengeluaran kelenjar gastrik. Selama 2-3 jam setelah lemak masuk, konsentrat asam hidroklorida dan pepsin di lambung akan menurun - padahal keduanya diperlukan untuk pencernaan protein. Penundaan proses ini memberi kesempatan berbagai bakteri berpesta membusukkan protein. Akibat lanjutannya bisa dirangkai dari uraian nomor 4 di atas...
6. RESIKO kombinasi PROTEIN HEWANI dengan MAKANAN ASAM
Karena protein akan dicerna dalam lambung yang bersifat asam - kita sering salah mengerti dengan menambahkan makanan asam (misalnya juice lemon, kuah cuka yang keras dalam salad, dll). Tapi itu salah besar. Makanan asam di dalam lambung akan menghambat pengeluaran asam hidroklorida yang diperlukan enzym pepsin untuk mencerna protein -bukan asam yang lain-. Sementara menunggu makanan asam diurai oleh lambung, protein akan menunggu keluarnya asam hidroklorida dan pepsin. Penundaan proses ini memberi kesempatan berbagai bakteri berpesta membusukkan protein. Akibat lanjutannya bisa dirangkai dari uraian nomor 4 di atas...
7. HINDARI RESIKO kombinasi PROTEIN HEWANI dengan GULA
Semua jenis gula, begitu dimakan & ditelan akan langsung menuju usus kecil untuk dicerna dan asimilasi. Bila dikonsumsi bersama protein (seperti cake setelah steak), maka gula akan menghambat proses pencernaan protein dengan menghalangi pengeluaran kelenjar gastrik di lambung. Bahkan gula akan terjebak dalam lambung bersama protein yang belum sempurna dicerna. Kondisi ini akan mengundang berbagai bakteri berpesta membusukkan protein. Akibat lanjutannya bisa dirangkai dari uraian nomor 4 di atas...
Uraian di atas memberi kesan bagi kita, urusan makan jadi merepotkan.
Sebenarnya tidaklah demikian. Hanya 7 (TUJUH) langkah sederhana yang bisa kita mulai jalankan::: kurangi konsumsi protein hewani, gantikan dengan protein nabati, kombinasikan dengan sayuran segar (paling bagus sayuran mentah), makanlah protein hewani diwaktu berbeda dengan konsumsi karbohidrat, lemak, makanan asam, ataupun gula. Tiap makanan butuh kondisi lambung yang berbeda agar sempurna dicerna.
Sebenarnya tidaklah demikian. Hanya 7 (TUJUH) langkah sederhana yang bisa kita mulai jalankan::: kurangi konsumsi protein hewani, gantikan dengan protein nabati, kombinasikan dengan sayuran segar (paling bagus sayuran mentah), makanlah protein hewani diwaktu berbeda dengan konsumsi karbohidrat, lemak, makanan asam, ataupun gula. Tiap makanan butuh kondisi lambung yang berbeda agar sempurna dicerna.
Peradaban MAKAN dunia barat sejak zaman penjajahan Belanda dan Inggris mengajarkan kita untuk mencomot sedikit-sedikit semua jenis makanan dan mencampuradukkan dalam lambung kita secara bersamaan. Sudah berpuluh tahun ajaran “Empat Sehat Lima Sempurna” kita terima tanpa bertanya. Barangkali kini saatnya …
(Sumber : Buku “FengShui Makanan” dan “Keajaiban Enzym”)






0 comments:
Post a Comment